Legenda Hantu Thailand Mae Nak Phra Khanong

By Unknown → Minggu, 19 Mei 2013
Bagi Anda pengemar film horor Thailand pasti sudah pernah menonton film horor Thailand yang berjudul MAE NAK yang sudah beberapa kali diremake atau di buat ulang. Namun apakah Anda tahu bahwa film Mae Nak itu bersumber dari kisah nyata yang mana merupakan cerita legenda masyarakat Thailand. Kisah ini telah dibuat dalam beberapa film sejak era film bisu, dengan salah satu yang paling terkenal adalah Mae Nak Phra Khanong pada tahun 1958. Legenda ini juga diadaptasi menjadi sebuah opera, Mae Nak, oleh komposer Thailand Somtow Sucharitkul. Tahun 1999 film Nang Naak diremake oleh sutradara asal kerajaan Thailand Nonzee Nimibutr. Sineas asal Britania Raya Mark Duffeld menyutradarai ulang pada tahun 2005 dengan judul Nâak Rák Táe ("Cinta Sejati Naak"). Dan terakhir diremake ulang pada tahun 2012 lalu dalam format 3D.


Mae Nak Phrakhanong adalah kisah hantu terkenal yang menjadi favorit di antara rakyat Thailand. Bercerita tentang kehidupan hantu istri yang setia dan suami yang tidak curiga bahwa istrinya adalah hantu. Berikut kisah legenda hantu Thailand tersebut..

Seabad lalu, pada masa pemerintahan Raja Mongkut (1851-1868), saat Bangkok masih disebut "Venesia dari Timur Jauh", ada gadis cantik bernama Nang Naak. Nang Naak jatuh cinta pada pemuda tampan bernama Nai Maak. Mereka tumbuh bersama didesa yang sama, namun hubungan keduanya mendapat tentangan dari keluarga Maak, yang dikisahkan berasal dari keluarga kaya. Sedangkan Naak, hanya berasal dari keluarga sederhana. Tidak peduli pada kerikil atau lancarnya hubungan itu, mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bersama. Tak lama setelah pernikahan itu, Nai Maak kemudian menjadi sukarelawan wajib militer berperang melawan Cina, ia meninggalkan istri yang mengandung anaknya dengan kesedihan dan ketakutan yang mungkin akan muncul. Karena luka parah yang diderita Maak akibat peperangan, ia kemudian mendapatkan perawatan yang cukup lama disebuah kuil. Sebagai istri yang setia, Mae (nyonya) Naak selalu menantikan saat2 kembalinya sang suami, namun hari tersebut tidak pernah ada hingga akhir hayatnya.
Berbulan bulan setelah kepergiannya, hari itu Maak kembali ke desanya, sungai yang membelah daratan dimana ditepian sungai tersebut rumahnya berada, telah disusurinya. Kampung itu nampak sepi dan sunyi, ada rasa ragu dihatinya, kemana penduduk desanya? Kenapa begitu sunyi…
Namun keraguan itu tak berlangsung lama ketika sosok perempuan yang sedang duduk dimuka rumah panggungnya ditepi sungai. Ia duduk menimang bayinya. Ia yakin itu adalah Naak, istrinya dan bayi itu pastilah putranya yang lahir ketika ia berperang. Perahunya mendekat, ia tak sabar ingin segera menyapa istri dan anaknya yang telah ia tinggalkan berbulan bulan lamanya.
Maak menyapa dan memeluk istri dan bayi mereka dengan suka cita, namun istrinya tidak banyak bicara, hanya sorot matanya yang sayu melukiskan kerinduan yang amat dalam pada suaminya. Pertemuan yang agak aneh itu terjadi sangat cepat namun mengesankan. Keluarga itu kembali berkumpul dan berbahagia.
Kehidupan selanjutnya bukanlah hal yang mudah bagi Maak, hari harinya penuh dengan mimpi buruk karena trauma perang. Namun demikian, sebagai istri yang baik, Naak selalu melayani suaminya dengan sebaik-baiknya. 
Hari berganti hari, bulan berjalan, suatu pagi terlihat oleh Maak kepala biara datang bersama beberapa pendeta muda lain menuju rumahnya. Kepala pendeta itu melihat suasana rumah Maak yang lusuh, berdebu dan penuh dengan sarang laba-laba, seperti rumah yang tak berpenghuni sekian lama.
Kepala pendeta telah mendengar kembalinya Maak selesai berperang, namun yang membuat kepala pendeta tsb cemas adalah cerita penduduk yang dulu pernah menjadi tetangga dekat di kampung yang sama dengan Maak. Bahwa mereka meninggalkan kampung Maak disepanjang tepian sungai karena hantu Naak yang sering bergentayangan menyebar terror di kampung mereka.
Mae Naak sebetulnya telah meninggal berbulan-bulan yang lalu jauh sebelum suaminya kembali dari perang. Dan sesungguhnya Maak telah pulang kerumah yang tak berpenghuni. Lalu siapa yang selama ini menemani dan merawat dia? Apakah betul istrinya Mae Naak? Saat hatinya galau, kepala pendeta itu menyuruhnya untuk melihat Naak yang saat itu sedang memasak dibelakang rumah, dengan cara membungkukkan badan dan melihat siapa Naak sebenarnya diantara kedua kaki yang dibentangkan. Yang terlihat kemudian oleh Maak adalah peralatan memasak itu bergerak sendiri, tidak ada seorangpun disana. Jadi selama ini hantu Naak telah mengelabui penglihatan Maak. Rumah yang selama ini dia lihat begitu bersih dan sejuk tiba-tiba nyata terlihat seperti yang disaksikan kepala pendeta itu: lusuh, berdebu, sangat kotor dan hampa.
Lalu bagaimana ia meninggal? Pendeta itu berkisah: Saat hari bersalin tiba, dlm badai Naak berusaha melahirkan bayinya, namun persalinan itu berakhir dengan kematian, bayi itu mati bersama ibunya. Naak meninggal dalam kesedihan dan kerinduan. Para tetangga yang bersimpati menguburkan mereka secara baik-baik, tapi arwah Naak tetap bergentayangan. Ketika Maak kembali dari perang, hantu Naak menjelma menjadi manusia. Kisah cinta misterius itu serta merta berubah menjadi adegan horror. Begitu mendengar kenyataan yang telah dikisahkan Kepala Pendeta, Maak lari…dan tersadar bahwa selama ini, ia telah hidup bersama hantu istri dan bayinya. Hantu Naak terus mengikuti kemanapun Maak pergi. Selama perburuan itu hantu Naak berlaku brutal dan tidak segan membunuh siapa saja yang menghalanginya. Penduduk desa kemudian mendatangkan dukun, para pemuka agama bahkan pengusir setan yang dari berbagai penjuru di Thailand untuk melawan hantu Naak, namun usaha itu sia sia. Hantu itu terus mebunuh siapa saja yang menghalanginya bahkan para pendeta yang sedang mengamankan Maak di dalam kuil.
Akhirnya seorang pendeta muda yang datang dari daerah yang cukup jauh berhasil mendamaikan arwah penasaran Naak, beberapa versi legenda ini percaya, dialah Somdej Phra Puttajan dari Thonburi, kabarnya ia menggali kembali kubur Naak dan memberi semacam pasak yang konon ditinggalkan oleh Pangeran dari Chumporn. Pasak bertali itu kemudian dililitkan di kepala Naak, dan lenyap kedalam tengkoraknya.
Nai Maak yang berduka kemudian memutuskan untuk menjadi pendeta






Sekarang tempat pemakaman Nang Naak menjadi salah satu tempat yang kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru di Thailand bahkan turis manca negara. Makam itu terletak di batas kompleks kuil Mahabute di On Nut, Sukumvit Soi 77, Bangkok. Kini, baik kuil maupun penduduk yang tinggal disekitarnya mendapatkan rejeki dari kepopuleran legenda Nang Naak. Kuil ini dibangun layaknya sebuah rumah bagi Nang Naak dan anaknya, dan bukan sebuah kuil konvensional. Banyak buket-buket bunga, kosmetik, mainan, popok bayi, dan botol susu sebagai hadiah untuk anaknya. Bahkan, yang menarik disini adalah TV yang selalu dibiarkan menyala, karena masyarakat yakin Nang Naak masih tetap ada di tempat itu.
Kebanyakan orang yang datang, meminta petunjuk akan peruntungan karena wanita ini dikenal mampu memenangkan lotere. Tak heran, di luar kuil banyak pedagang menjual tiket lotere, peramal keberuntungan, dan penjual ikan emas (sebagai simbol nasib baik). Tidak hanya mereka yang mencari kemenangan undian, namun kuil ini juga populer untuk pria-pria yang hendak pergi wajib militer. Nang Naak juga dikenal mampu menghilangkan berbagai hambatan hidup, sehingga berbagai kalangan usia datang ke tempat ini. Namun wanita yang meminta kesuburan atau wanita yang sedang hamil, dianjurkan untuk menghindari tempat ini karena berbagai alasan tertentu.
ref : kaskus